11/05/2013

Menitip Mimpi

Pernah gak sih terpikir di benak kalian, kalau kita hidup di dunia ini karena suatu alasan?

Karena suatu pengorbanan, yang telah memaksa kita hidup di dunia ini. Seseorang yang telah berkorban hidupnya, demi kita lahir dan menghirup tiap molekul oksigen di bumi ini.

Iya, mungkin yang paling utama adalah Ibu. Yang melahirkan kita. Tapi pernah gak sih kalian benar-benar mikirin bahwa ada seseorang yang harusnya saat ini masih hidup kalau kalian tidak lahir. Singkatnya, orang itu merelakan nyawanya hanya agar kita hidup di dunia ini. Benar-benar memberi hidupnya untuk kita.

Namanya Dita. Dia yang seharusnya hidup sekarang ini, bukan gue. Dia yang seharusnya nulis semua ini, mungkin. Dia yang seharusnya pergi ke SMA, rasain betapa excitednya saat kalender menunjukkan hari semakin dekat ke ulang tahun ke-17, main sama temen-temen yang gokil abis, ya.. Harusnya dia.

Tapi kenyataannya enggak, gue yang ngalamin semua itu. Gue yang nulis ini, dan dia yang tiada. Sejenak dalam hidup gue, gue ngerasa tanggungjawab gue lebih besar dari biasanya, gue menanggung mimpi orang lain, yang pernah hidup bareng gue, lalu merelakan nyawanya buat gue.

Iya, gue emang pernah hidup bareng dia, di suatu ruangan yang dinamakan rahim. Walaupun gue gak inget sama sekali masa-masa gue di dalam kandungan, tapi itu fakta. Sejarah. Kadang lo gak perlu mengalami sejarah itu untuk tau bahwa sejarah tersebut memang ada, dan pernah terjadi.

Gue dan saudara kembar gue memang gak pernah kayak saudara kembar yang lain. Tumbuh bareng, bercanda, curhat, berantem -mungkin.

Tapi gue yakin, kita pernah berbagi yang lebih dari itu. Kita pernah berbagi kehidupan di dalam seseorang, yaitu Ibu.

Berat badan Dita yang saat itu lebih dibandingkan berat badan gue, membuat orang-orang lebih mengkhawatirkan kondisi janin gue dibandingkan Dita. Mungkin kalo saat di dalam rahim itu gue udah bisa mikir, gue bakal jadi bayi hopeless yang gak mampu ngapa-ngapain dan tinggal nunggu badan gue nyusut demi kehidupan Dita yang lebih baik.

Tapi ternyata takdir berkata lain. Ibu gue mengalami suatu hal yang mengakibatkan dia harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Dan kehilangan Dita. Tuhan telah menetapkan. Takdir memang ada.

Saat itu usia kandungan Ibu gue baru berumur 6 jalan 7 bulan. Tapi gue udah harus keluar meninggalkan kenyamanan rahim seorang wanita. Melihat saudara kembar gue meninggalkan gue selamanya. Walaupun saat itu gue belum bisa melihat, secara harfiah. Dan gue harus terlahir sebagai bayi prematur yang terpaksa kuat.

Menurut gue bayi yang lahirnya prematur adalah bayi yang tough. Gimana enggak? Disaat semua orang 9 bulan di rahim ibu. Bayi prematur harus lahir ke dunia kurang dari 9 bulan.

Dingin, takut, sesak, mungkin itu yang mereka rasakan. Ditambah lagi alat-alat yang menyeramkan -katanya sih mau nyamain rahim ibu, mana bisa.

Kadang, ada satu momen dalam hidup gue yang membawa gue untuk berpikir, "Gimana ya rasanya kalo janin kembaran gue itu berhasil lahir bareng gue dan bisa hidup bareng gue sejauh ini? Pasti rasanya tinggal pisah sama orang tua gak akan seberat ini ya. Asik, gak sendirian kemana-mana. Gak perlu khawatir senja datang dan malam menyelimuti dengan sepi dan dingin."

But, this is life. Gak ada saudara kembar. And, yeah, this is life. This is my life. Apa gue harus senang atau sedih atas kehendakNya memilih gue -bukan Dita- yang menjalani kehidupan bumi?

Dan baru gue sadari, hal tersebut harusnya memotivasi gue lebih dalam. Gue hidup di dunia ini, dengan, alhamdulillah physically normal, harusnya gue udah bersyukur dan gak nyia-nyiain hidup gue. Atau mungkin, kehidupan kedua gue. Setelah "mendapatkan" nyawa dari saudara kembar gue saat masih janin.

Benar-benar hal yang menakjubkan. Wow.

Like, whoa.

Entah kenapa, Dia memilih gue untuk menjalankan kehidupan di dunia, dibandingkan Dita, janin kembaran gue. Allah milih gue. Like, wow.

Dan walaupun gue harus jadi bayi yang tough alias prematur, tapi gue bisa tumbuh sejauh ini. Like, seriously, Am I normal? Yeah!

Gue gak nyesel sih kenapa baru sadar itu semua sekarang, gue bersyukur masih sempat tersadarkan. Dan perasaan ini, perasaan menanggung beban mewujudkan mimpi satu nyawa yang hilang, membuat gue berpikir untuk gak nyia-nyiain kesempatan yang Allah kasih buat gue.

Kesempatan buat mewujudkan mimpi gue.

Kesempatan untuk hidup.

Dan bersyukur.

Sekali lagi, mungkin apa yang membuat kita semua bertahan sejauh ini adalah pencarian. Bukan pencarian diri. Tapi pencarian alasan mengapa kita hidup di dunia ini. Karena setiap kehidupan, memiliki alasan dan tujuan yang telah ditentukan Sang Kuasa.

Selamat Tahun Baru Islam 1435 H,
Gita

1 komentar:

  1. selamat tahun baru islam juga, semoga taun ini lebih baik

    BalasHapus