6/15/2017

Should I title it, untitled?

Jika kamu baca ini,
mungkin kamu beruntung.
atau tidak.
terserahlah.

***

Hidup menjadi lebih kompleks di umur menuju 20. Sembilan belas tahun, buat aku adalah umur yang sama sekali gak mudah. Karena apa? Karena di umur ini aku mulai belajar yang namanya: cinta.

(oh crap cheesy banget, tapi sekali-kali gue mau posting cheesy ya, boleh?)
(anggap aja ini posting tandingan tentang gue yang saat SMA mengkritik tentang relationship, duh gak tau apa-apa aja udah sok berpendapat)

Tidak lama setelah gue berumur 19 tahun, gue bertemu seseorang. He was completely new to my life. We had never met before. Even in my dream, I had no idea who is he. Kita (aku dan dia) kenalan. Seperti globalisasi yang masuk ke negara ini, dia masuk bagaikan arus tanpa henti; masuk ke kehidupan gue. Kok bisa? Idk it just.... happened that way.

Dia, yang pertama.
Mungkin gue pernah berpikir: ngapain sih orang pake nanya "Lagi apa?" "Udah makan atau belum?" "Tadi makan apa?" "Kamu udah bangun" "Hari ini mau kemana?" "Dasar jelek." "Aku kangen tau." "Ketemu yuk!" "Aku udah di depan." "Pulang ya abis ini, jangan sakit." "Aku telfon, boleh?" "Bangun. Katanya mau ngerjain tugas." dan seterusnya. (Tapi ternyata itu kejadian).

Gak guna banget kali? Segitunya ya?

Eh, ternyata iya. Iya kalo lagi kasmaran segitunya. Dan gue pernah bilang (pada akhirnya menerima proses itu dalam hidup), "Kasmaran? Paling sesaat." Dan dia bilang, "Enggak." dan bodohnya gue percaya. :( Emang fungsi otak jadi menurun ya kalo dalam fase itu.

Dan gue melakukan semua hal pertama dengan dia. Maksudnya, astaga jangan banyangin yang macem-macem--maksudnya adalah: jalan berdua sama lawan jenis. Bener-bener berdua dan ngobrol tentang kehidupan. I first experienced it with him. Pertama kalinya nonton berdua gitu..... ya ini harus dihindari guys agak ngeri y gelap-gelap gitu. Tapi film kartun kok. Dan pertama ngenalin ke orangtua. (NAH INI LEBIH NGERI).

Everything went so good. He loved me, I loved him back. There were always these calls that I loved the most: morning and late night calls. "Aku udah bangun, kamu berangkat jam berapa? Hati-hati ya." "Aku baru sampe, mau beres-beres dulu, 5 menit lagi aku telfon ya." "Ayok, bangun. Aku temenin ngerjain tugas ya." and so on. Those sweet texts that I had never imagine before. Ugh.

Everything went so good until one day he acted different. Duh, it was just a week after he asked me to join his holiday trip! No more morning and late night calls. He even rejected my call! No more this one-call-away guy. Gue ternyata tipe yang kangenan gitu huuuu. Gak kuat, I asked to meet just to make things clear with him.

Dan semuanya sangat jelas. Sejelas-jelasnya. He is such a bastard.

Apakah kalian yang baca bertanya-tanya kenapa harus berakhir? Wk sama. Gue juga. Well, sampai sini, kita punya pertanyaan yang sama yah. Kenapa harus berakhir? (Even we never started it with a relationship status).

Jawabannya adalah: karena perasaannya sudah hilang. Oh, astaga, dari sini gue belajar banyak. Tentang menjadi dewasa. Tentang menjalin hubungan. Ternyata kompleks banget. BANGET.


Menjalin hubungan dengan seseorang adalah tentang bagaimana diri kamu dan dia; bukan kamu aja. Ini bukan tentang kamu yang sayang sama dia dan mau dia seperti yang kamu bayangkan, tapi bagaimana kamu bisa menerima dia termasuk perlakuan dia ke kamu. Saat kamu bisa menerima itu, dan pasangan kamu juga bisa menerima hal yang sama: awesome! Kalian tinggal cari cara gimana biar hubungannya gak bosen. Dan tentang perasaan yang hilang timbul---wajar. Solusinya cuma ada di diri kamu dan pasangan kamu: mau gak berusaha untuk merekonstruksi perasaan itu? Karena jika hubungan hanya dijalankan berdasarkan perasaan, tidak akan ada pernikahan hingga maut memisahkan. Hubungan adalah gimana kamu dan pasangan kamu saling mengkonstruksi perasaan dan merekonstruksinya saat hilang.

Dan seperti halnya bangunan yang bisa direkonstruksi, perasaan juga bisa didekonstruksi. Gue melakukan itu, akhirnya. (ceritanya sekarang udah move on)

Balik tentang umur 19, di awal tahun gue belajar gimana caranya jatuh cinta. Jatuh cinta sama perhatian yang dikasih orang lain ke kita, ngerasain gimana sih rasanya diperhatiin segitunya. Dan di tengah tahun gue belajar bagaimana mengatur emosi, bagaimana memahami orang lain (ini sulit banget, hidup dia bukan kita yang atur, tapi hidup dia ya dia yang punya), dan bagaimana saling mendukung. Di akhir umur 19, gue belajar kalo laki-laki itu makhluk brengsek. Gak tahu sih semuanya atau enggak, tapi dia cukup brengsek untuk membuat hidup gue berantakan. Membuat gue ketergantungan lalu melepas gitu aja. Gak bertanggungjawab!

Tapi dia cukup payah untuk mematahkan seorang Gita! Haha. I might be broken but I was still there. And I got up! Haha here I am, udah bisa nge-unfollow lo! Lol.

Iyah, jadi gitu intinya. Tiap masalah ada hikmahnya. Hikmah dari masalah ini adalah: thanks udah bikin gue sadar ternyata gue sekuat itu ya. Thanks udah mengeluarkan super power dari dalam diri gue (ya walaupun lo melakukannya dengan pertama-tama membuat gue merasa seperti bunga lalu lo buang bagai sampah). Astaga kasar banget.

Dan sekarang, di umur 20, ada hal yang gue bisa ambil dari terpuruknya umur 19, yaitu hati-hati. Hati-hati. Yang lo kenal seumur hidup lo aja bisa nyakitin, gimana yang baru kenal? Dan rasanya sedih sih, kenapa harus ada hubungan ketika ujung-ujungnya jadi permusuhan? Maksudnya, ini pertama kali juga loh buat gue seseorang masuk dan keluar hidup gue. Biasanya.... gak ada. Ya masuk hidup gue ya masuk aja, as a friend. And it won't meet an end. Kalo hubungan? Ya gini risikonya. Harus ada yang keluar ya setelah itu? Miris.

Di umur segini gue sadar rasanya udah gak mau main-main. Bukan mau langsung nikah ya, bukan. (GUE BELOM SIAP COY). Tapi gak mau keluar-masuk hidup orang gak jelas. Dan gak mau juga asal 'buka pintu' membiarkan orang lain keluar masuk. Enggak. Mending di halaman aja dulu, lama gak apa-apa. Asalkan jelas, kalo mau masuk ya jangan keluar lagi dan kalo mau keluar mending gak usah masuk sama kali.


Udah gitu aja.
'
Huft rasanya lega.

Jadiin pelajaran yah guys.

Terus, sekarang Gita lagi kasmaran sama siapa?
Siapa ya? Ada lah. Seseorang yang gue sebut namanya di tiap doa sepertiga malam gue. Aihhh.

Udah ah cheesynya. Agak geli gimana gitu.

Bye,
Gita.

P.S. And you know what, life is getting more complecated in age of 20!!!! Yang namanya cinta makin rumit rasanya. Gue berasa hidup di FTV. Bukan, bukan FTV gadis bebek dan juragan jengkol. Apa dong judul yang tepat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar